KOLABORASI LINTAS GENERASI
Artikel 20 Februari 2026

KOLABORASI LINTAS GENERASI

KOLABORASI LINTAS GENERASI

(Serial Refleksi ayat-ayat Tarbawi)

Abdul Khoir Rahmat, Lc



Ada satu ayat di dalam Al-Quran yang sering kita baca bahkan bisa jadi kita sudah mengetahui artinya, tapi mungkin kita belum mencoba menggambarkan bagaimana suasananya. Berikut ayatnya, Allah Azza wa Jalla berfirman:


وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ


Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Baqarah: 127)


Sekarang mari kita bayangkan suasananya, seorang ayah bernama Ibrahim dibantu dengan seorang anak bernama Ismail, menyusun batu satu demi satu sampai menjadi sebuah bangunan besar di atas sebuah pondasi yang kokoh. Di sela-sela kerja fisik yang menguras tenaga itu, terselip doa lirih dengan lembut “Rabbana taqabbal minna…”


Sungguh ini bukan sekedar aktifitas membangun sebuah bangunan biasa, ini adalah proyek besar peradaban. 


Bukan tidak bisa Ibrahim mengerjakan nya seorang diri. Bukan tak mampu Ibrahim menyelesaikan itu semua. Tetapi karena sang ayah sadar bahwa proyek kebaikan ini harus dibangun bersama, sang anak harus diikutsertakan dalam amal shalih, anak harus dibiasakan dalam kebaikan, dan anak yang akan menjadi penerus kebaikan ini setelah kepergian ayahnya. 


Ibrahim sebagai seorang ayah yang menjadi arsitek sebuah visi besar dan Ismail sebagai seorang anak yang akan melanjutkan misi. Sebuah kolaborasi yang indah. Sebuah cita-cita besar yang lahir dari rumah. 


Kita sering kali ingin membangun “Ka‘bah” versi kita, lembaga besar, gerakan besar, nama besar. Tapi kita lupa membangun Ismail di rumah. Kita lupa menghadirkan sosok penerus yang mampu melanjutkan kebaikan itu semua. 


Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نِحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ


“Tidaklah seorang ayah memberikan suatu pemberian kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik.” (HR. Tirmidzi) 


Sebuah kolaborasi yang indah, Ibrahim punya hikmah, Ismail punya tenaga.

Kolaborasi lintas generasi bukan berarti yang tua mendominasi dan yang muda diam hanya menonton saja. 

Juga bukan yang muda melawan dan menguasai kemudian yang tua tersingkir dan tidak dianggap. 

Semuanya harus berjalan bersamaan, orang tua mengarahkan dan anak yang menggerakkan. 


Bahkan di penutup ayat yang sama terkandung nilai kolaborasi yang sangat indah. Allah megabadikan pinta dan harap mereka. Ibrahim dan Ismail berdoa: 

“Rabbana taqabbal minna…”

(Ya Allah, terimalah dari kami)

Ibrahim tidak mengatakan “dariku”, atau mengatakan “dari anakku” tetapi “dari kami berdua..”

Allahu Akbar!! sebuah kolaborasi spiritual antara ayah dan anak. 


Dan pertanyaan besar untuk kita para orangtua, sudahkah kita meneladani Ibrahim. Yang memiliki visi besar untuk agama ini. Yang mengajak dan melibatkan anak kita dalam mensukseskan visi tersebut? Yang meyiapkan anak kita untuk melanjutkan segala macam kebaikan kita di atas muka bumi ini. Atau kita hanya sibuk sendiri. Seakan membangun sesuatu padahal hanya terbuai dalam aktivitas semu. 


Dalam sebuah ceramahnya, KH. Budi Ashari, Lc hafizhahullah pernah menyampaikan yang kurang lebih maknanya, “Wahai para orangtua, mari siapkan anak-anak kita yang tidak hanya bisa mewarisi harta kita, tetapi juga bisa mewarisi perjuangan kita.” (Selesai kutipan)


Jika satu generasi bekerja tanpa menyiapkan penerus, maka ia hanya membangun bangunan sementara.

Tapi jika ia menyiapkan anak-anaknya sebagai partner dakwah dan kebaikan, maka ia sedang membangun sejarah.




Wallahu ‘alam bishshawab



#Ramadhan1447H#tadabbur